Mungkin Bukan Kemahalan, tapi Mental Kita yang Belum Siap

 

Aku pernah dengar sebuah narasi yang bilang “Jangan pernah sebut kata mahal atau kemahalan”. Di momen itu aku kurang setuju, karena bagaimana jika kita benar-benar merasa bahwa barang tersebut mahal? Bagaimana jika kita melihat sesuatu dan menurut perhitungan kita memang mahal? Apakah kita tidak boleh mengekspresikannya dengan kalimat?

Sampai akhirnya waktu itu aku pernah lihat sebuah kelas untuk mempelajari suatu skill yang harga kelasnya kurang lebih 100 juta, di momen itu aku nyeplos dengan entengnya “Ntar aku juga mau ah ikut ini”. Lalu komentar orang sekitarku yang saat itu mendengar adalah “MAHAL AMAT”.  

Disitu aku terdiam. Iyaya, 100 juta itu bukan uang yang sedikit. Kalau dilihat dari aku yang sekarang pun rasa-rasanya itu angka yang mustahil, apalagi dikeluarkan sekedar untuk ikut kelas tertentu, makanya wajar aja komentar orang adalah mahal.

Tapi entah kenapa aku kesal saat dengar kata mahal di momen itu, rasanya seperti aku tidak diizinkan untuk bermimpi. Karena sekali aku bilang bahwa 100 juta adalah angka yang gak mungkin, di saat itu juga aku gak akan pernah punya kesempatannya.

Padahal aku yakin aja akan bisa ada di titik itu, titik di mana mengeluarkan 100 juta untuk skill baru bukan sebuah masalah. Entah berapa lama lagi, mungkin saat umurku berkepala 3? Atau 4? Entahlah. Tapi aku yakin, momen itu akan ada. Makanya ceplosan itu hadir sebagai bentuk manifestasi, bukan sekedar khayalan.

Dari situ sepertinya aku paham maksud dari narasi “Jangan pernah sebut kata mahal atau kemahalan” yang pernah aku dapatkan sebelumnya. Ternyata kalimat tersebut bukan untuk membatasi kita dalam berekspresi, tapi justru punya fungsi untuk menjaga mental.

Karena secara gak sadar, saat kita bilang sesuatu terlalu mahal, kita juga sedang bilang bahwa kita tidak pantas atas hal tersebut. Saat kita tidak merasa pantas, kita tidak akan punya motivasi untuk mengusahakannya. Karena bagaimana akan kita usahakan, jika kita saja tidak memberi kesempatan ke diri kita sendiri untuk menginginkannya?  

Sejak itu aku jadi sangat berhati-hati saat menggunakan kata mahal. Aku tanyakan dulu, apakah mahal ini karena memang tidak prioritas, atau aku sedang merasa tidak pantas atas hal tersebut? Yang akhirnya membatasi aku dari mengusahakannya.

Jika tidak prioritas, maka tidak apa. Tapi jika itu adalah yang aku inginkan, berarti bukan hal tersebut yang terlalu mahal, tapi akunya saja yang belum siap; entah itu dalam bentuk uang atau mental.  

Komentar