Kejutan pertamaku di 2026 adalah percakapan antara dokter
dan bunda di salah satu rumah sakit awal Januari lalu, “Dilihat dari bentuknya
sih ini tumor bu, dan dari ukurannya sudah butuh dioperasi” dengan posisiku di
atas kasur pasien.
Kalau kalian tanya apa reaksiku, datar saja sebenarnya.
Selayaknya gumamku saat terguling ke jurang di Gunung Ciremai 2 tahun lalu, “ah
sepertinya aku akan mati hari ini”, gumamanku kala itu adalah, “ah kejutan
pertama di tahun ini”. Tidak kurang. Tidak lebih.
3 hari setelahnya aku baru tahu kalau ada 7 tumor di
badanku, untungnya tidak ada tanda-tanda penyebaran. Jadi bukan kanker,
alhamdulillah. Tapi ada satu tumor dengan ukuran 8x6 cm yang masih belum bisa
dipastikan tipenya, sebut saja antara tumor biasa dan luar biasa.
Jika biasa, tindakan yang perlu dilakukan cukup dengan
mengangkat tumornya saja. Tapi jika luar biasa, sekitarnya juga harus ikut
diangkat. Kata dokter, untuk bisa tahu kepastian jenisnya aku harus menjalani
biopsi. Saat kutanya apa itu biopsi dan dokternya menjelaskan, sepertinya di
titik itu aku mulai merasa takut.
Untuk kalian yang juga tidak tahu apa itu biopsi,
sederhananya adalah pengambilan sample. Di mana badan kita dibelek sekitar
setengah senti, lalu dokter akan mengambil sedikit bagian dari tumornya untuk
dijadikan sample. Ah, membayangkannya saja sudah mengerikan. Bagaimana aku akan
menjalani operasi pengangkatannya nanti? Pikirku saat itu.
Sebelum biopsi, kita perlu periksa lab dulu. Karena itulah
aku pergi dari satu rumah sakit ke rumah sakit lain untuk membandingkan
harga ambil darah yang entah kenapa sangat tidak bersahabat itu. Siapa sangka,
kebiasaanku membandingkan harga juga harus aku pakai untuk membandingkan
harga rumah sakit.
Sebenarnya pas sekali harga termurah ada di rumah sakit
terakhir. Bisa saja aku langsung ambil darah saat itu juga. Tapi saat
mengabarkan lewat telpon dan ditanya apakah mau nanti saja ambil darahnya saat
bunda kosong? Langsung aku iyakan. Karena sepertinya menjadi mandiri bukan
pilihan yang menarik saat itu, haha.
Sorenya aku kembali lagi untuk ambil darah. Ternyata mereka
butuh darahku sebanyak tiga tabung. Sekali lagi, tiga tabung. Yaampun, anak
anemia ini harus bertarung dengan prosedur sebelum tindakan. Di tabung pertama
rasanya masih biasa saja, di tabung kedua mulai terasa nyeri, dan di tabung
ketiga aku benar-benar menahan diri. Ya walaupun tetap tanpa ekspresi.
Selesai ambil darah hasil labnya keluar di hari yang sama,
sesuai perkiraan kalau Hb-ku di bawah rata-rata; sembilan. Awalnya aku kira gak
masalah, karena bahkan terakhir Hb-ku 6, jadi bukankah 9 adalah sebuah
pencapaian? yang ternyata cukup jadi kekhawatiran dokternya.
Tapi karena sisanya aman, hari itu juga aku tetap tindakan.
Saat diantar ke ruang tindakan dan diberikan gaun bedah warna hijau tua khas rumah sakit, ah, siapa sangka baju yang biasanya hanya aku lihat lewat layar ini sekarang aku sendiri yang harus pakai.
Jangan tanya seberapa besar usahaku menenangkan diri di situ, padahal tahu hanya tindakan kecil saja; atau karena ketakutanku sudah sejauh membayangkan bagaimana tindakan besarnya nanti, ya?
Entahlah. Tapi alhamdulillah saat itu sakitnya hanya saat dibius, sisanya aman. Bahkan aku bisa benar-benar memerhatikan tindakannya dari awal sampai akhir.
Sebelum mulai, dokternya sempat menenangkan, “Biusnya ga akan sakit kok, paling kayak ketusuk jarum pas ambil darah aja”, Di situ aku langsung bertanya-tanya, ambil darah di tabung ke berapa ya?
Tentu saja jawabannya ketiga. Gak paham konsep dibius
gimana, aku kira hanya akan ada satu suntikan aja. Tapi kemarin rasanya seperti
disuntik 3x dengan 3 kedalaman yang berbeda; disuntikan pertama dan kedua aku
masih menahan diri, lalu mulai mengeluh di suntikan ketiga, dan sudah siap
berteriak jika masih ada suntikan keempat. Untung saja tidak ada.
Selesai tindakan aku bisa langsung pulang. Lukanya ditutup
dengan kasa dan plester tahan air, baru boleh dilepas setelah 3 hari, dan tidak
boleh berendem/berenang selama 2 minggu. Tapi kalian tahu apa, aku sudah punya
rencana untuk berenang di Phuket minggu depannya, bahkan tiketnya sudah aku
pegang. Tapi apa boleh buat, ternyata belum rejekinya.
Sebenarnya untuk hasil biopsi sudah bisa dilihat satu minggu
setelah tindakan, tapi karena aku pergi dan baru pulang seminggu setelahnya,
disitu lah aku baru tau hasilnya; tumor biasa, alhamdulillah.
Jadi tindakannya hanya perlu mengangkat tumornya saja, tanpa
perlu mengangkat sekitarnya juga. Karena sudah tau jenis tumornya dengan jelas,
akhirnya dilanjut dengan menentukan tanggal operasi pengangkatannya, yang kita
sepakati di hari Selasa, 10 Februari 2026.
Berbeda dengan biopsi, prosedur sebelum tindakan kali ini
gak cuma ambil darah aja, tapi juga rotgen dan hasil keduanya harus
dikonsultasikan ke dokter penyakit dalam. Saat aku tanya untuk apa, katanya
untuk keamanan. Baiklah. Maka itulah aktivitasku beberapa hari sebelum
tindakan.
Tepat di hari tindakan aku harus puasa sejak jam 5 pagi,
datang ke Rumah Sakit jam 9 pagi, lalu menunggu di ruang persiapan. Lagi-lagi
dengan gaun bedah warna hijau khas Rumah Sakit. Sambil baring menunggu, aku
mulai dipasang infus.
Sebelum itu dokter anastesi juga sempat menjelaskan soal
prosedur pembiusan, sekaligus meminta tanda tangan persetujuan. Di situ aku
baru tahu, kalau ternyata dibius total artinya kita akan butuh alat bantu
nafas, ya?
Operasi kali ini untuk mengangkat 3 dari 7 tumor di badanku.
Kalau kalian tanya kenapa tidak semuanya, karena sisanya tumor kecil, dan
operasi hanya mengangkat tumor di atas 2 cm. Jika di bawah itu akan terlalu
sulit untuk dilihat dengan mata telanjang, begitu kata dokternya.
Di hari itu aku adalah pasien terakhir. Aku mulai masuk ke ruang operasi sekitar jam 2 siang. 2.15 tepatnya, karena itulah pemandangan
terakhirku sebelum dokternya bilang, “Kita tidur dulu ya” lalu kepalaku mulai terasa berat, menyusul badanku, dan berakhir gelap total.
Aku baru terbangun lagi 2 jam setelahnya, dalam keadaan
menggigil, dan entah ada di mana. Rasanya kepalaku terlalu berat untuk sekedar
melihat sekitar. Maka kalimat pertama yang keluar dari mulutku adalah, “Aku di
mana?”
Ternyata aku kembali di ruang yang sama sebelum operasi.
Baru sekitar sejam kemudian dipindahkan ke kamar. Lukaku dicek kembali, menunggu sekitar 3 jam, baru kalau
tidak ada tanda-tanda yang perlu dikhawatirkan, aku boleh memilih apakah mau
rawat inap atau langsung pulang.
Aku memilih pulang. Maka malam itu juga aku kembali ke
rumah, dengan keadaan lega. Akhirnya, selesai juga kejutan pertamaku di tahun
ini.
Kalau kalian tanya apa penyebabnya, sungguh aku juga tidak
tahu. Kebanyakan kasus terjadi karena gaya hidup. Tapi tidurku 8 jam, makanku
makanan rumah tanpa MSG, 3x sehari, dan hampir selalu tepat waktu, olahragaku
4-6x perminggu, konsumsi gulaku pun secukupnya, terbukti dari hasil tes gulaku
yang normal, stress?
Pertanyaan yang jadi sering bunda tanyakan juga setelah
diagnosa kemarin, dan ayah yang mentertawakan pembahasan itu, karena iya apa
juga yang bisa aku stressin?
Makanya sejak awal, aku memilih untuk menjawab pertanyaan kenapaku dengan “karena Allah mau". Lalu diam. Karena sekali aku mulai bertanya, sepertinya akan berakhir dengan menyalahkan tuhan.
Jadi sampai hikmah
itu benar-benar aku tangkap, aku hanya berusaha jalani prosesnya dengan penuh
harap, sebagai bentuk berserahku. Sekian cerita kejutan pertamaku, tolong doakan agar aku cepat pulih, ya!

Komentar
Posting Komentar