Terjebaknya kita di satu identitas seringkali menjadikan kita terjebak dalam satu perlombaan yang tidak terhindari. Misal kamu adalah seorang mahasiswa, goals tertingginya adalah menjadi mahasiswa terbaik, berarti pencapaianmu akan dihitung berdasarkan nilai.
Mau gak mau kamu pasti akan berkompetisi dengan mahasiswa lainnya. Jika nilaimu tinggi kamu akan merasa berhasil, pun begitu juga sebaliknya.
Maka kemungkinan besar saat nilaimu rendah atau setidaknya tidak mencapai target, kamu akan merasa gagal atau bahkan sampai kehilangan jati diri. Karena kamu adalah seorang mahasiswa, dan kamu merasa bahwa rendahnya nilaimu telah menandakan bahwa kamu gagal menjadi mahasiswa.
Di sini multi identitas menawarkan pendekatan sebaliknya. Dibanding
hanya mahasiswa saja, ambilah peran-peran lain sebagai identitasmmu juga. Misal
di sini Bang Zahid mencontohkan dirinya:
Tidak hanya seorang mahasiswa, dia juga seorang Youtuber dan
pelari. Apakah dia mahasiswa terbaik? Engga, nilai-nilainya standar aja. Apakah
dia Youtuber terbaik? Gak juga, karena masih banyak yang ada di atasnya. Apakah
dia pelari terbaik? Ya gak juga.
Tapi saat gak jadi mahasiswa terbaikpun, dia gak menganggap
itu sebagai masalah. Karena dia tahu, dia masih punya identitas yang lain. Walaupun
nilainya lebih rendah dari temannya misalnya, tapi dia juga buat video di Youtube.
Waktu yang sama yang temannya pakai untuk belajar, dia pakai
untuk buat video. Jadi mungkin temannya memang punya nilai yang lebih tinggi,
tapi dengan dirinya yang bisa merasa berdampak lewat perannya sebagai Youtuber;
meskipun harus mengorbankan sebagian waktu belajarnya, itu jadi harga yang worth
it untuk dibayar.
Dengan cara ini kamu gak perlu lagi terjebak dalam satu
perlombaan, kamu hanya perlu menaruh rasa cukup pada setiap identitas yang kamu
pilih. Rasa cukup ini seperti syarat wajib yang jika jumlahnya sama ataupun
lebih gak akan terlalu berpengaruh.
Misal syarat nilai IELTS lulus sebuah beasiswa adalah 700,
tapi apakah dengan kamu mengusahakan nilai 900 jadi lebih baik? Iya mungkin
lebih baik, tapi pengaruhnya gak banyak. Apalagi jika dibandingkan waktu yang
harus kamu investasikan, bisa dipakai untuk hal yang lain.
Tapi rasa cukup ini bukan untuk dijadikan pembenaran kamu jadi bisa malas-malasan. Misal karena sudah merasa cukup di nilai sekian, abis itu jadi jarang masuk kuliah. Bukan begitu.
Rasa cukup ini dimaksudkan untuk
memberikanmu kesempatan untuk berperan di bidang lain juga, tanpa perlu berpikir
kalau kamu harus menjadi yang terbaik di semua bidang tersebut.
Jadi kamu akan tetap kompetitif dan terus merasa berharga. Karena
kamu selalu tahu, kamu masih punya identitas lain kalaupun gagal dalam satu
identitas. Pun kamu bisa merasa berperan dan cukup di dalam
identitas-identitasmu itu, tanpa perlu membandingkannya dengan orang lain. Karena
sudah pasti komposisi identitas setiap orang berbeda.
Lalu pengalaman-pengalaman yang kamu miliki dari banyaknya
identitasmu tersebut, bisa kamu pakai juga untuk memperkuat serta memperkaya
karaktermu pada identitas utama yang kamu miliki.
Misal mahasiswa yang berorganisasi dengan yang tidak
beroganisasi. Mereka memang sama-sama mahasiswa, tapi yang berorganisasi pasti
akan punya sesuatu yang lebih daripada mereka yang tidak.
Walaupun gak salah juga untuk siapapun yang mau jadi
profesional di satu bidang aja. Tapi pada realitanya, sebagian besar kita
justru lebih membutuhkan jadi multi identitas dibandingkan hanya berada dalam
satu identitas aja.

Komentar
Posting Komentar