Jika Ingin Terbesarmu adalah Mati

Beberapa hari yang lalu aku berbagi tulisan tentang kekecewaanku saat SMA karena tahu kalau ternyata meminta mati itu dilarang, padahal itu adalah keinginanku sejak SD. Beberapa orang ada yang berkomentar,

“Aku juga lagi” (tidak secara literal tapi kurang lebih maksudnya seperti itu).

Aku tidak akan bicara soal solusi di sini, hanya ingin membagikan ceritaku, yang siapa tahu bisa jadi referensi. Pun seringkali kita hanya butuh membaca kisah orang lain untuk merasa gak sendiri, maka aku harap setidaknya tulisanku bisa hadir untuk menemani.

Jika kalian tanya memang hidupku sesulit apa sampai sudah meminta mati sejak SD?

Sebenarnya secara kasat mata hidupku baik-baik saja, tapi aku selalu merasa lelah atas setiap emosi yang hadir. Maka aku mulai mempertanyakan, “kenapa aku harus hidup?”.

Jawaban orang tuaku adalah karena tuhan maunya begitu. Maka setelahnya aku jadi selalu mempertanyakan tuhan, yang katanya sudah menghadirkan aku ke dunia itu.

Sejauh ingatanku saat itu kelas 4 SD, saat pertanyaan “Kalau memang tuhan ada, lalu siapa yang menciptakan tuhan? Kalau tidak ada yang menciptakan tuhan, bukahkah berarti tuhan tidak ada?” yang sayangnya hanya dijawab dengan, “Jangan bertanya hal seperti itu, itu bukan sesuatu yang perlu dipertanyakan”.

Aku lupa persisnya seperti apa, tapi intinya pertanyaanku tidak terjawab. Lalu sepertinya rasa kesal dari tidak terjawabnya pertanyaan tersebut yang akhirnya mendasari kemarahanku atas tuhan, karena kenapa bisa-bisanya tuhan sesuka hati itu menciptakan aku ke dunia?

Maka mati jadi keinginan terbesarku. Karena bukahkah semakin cepat aku mati akan semakin cepat juga aku tidak lagi merasa lelah? Bersyukurnya rasa ingin mati tersebut tidak dibersamai oleh rasa ingin bunuh diri, mungkin karena keegoisan dan idealisku juga yang ingin masuk surga?

Entahlah, tapi sepertinya begitu.

Seiring berjalannya waktu aku juga menemukan fakta bahwa ternyata kita tidak serta merta dilahirkan ke dunia begitu saja, kita sempat ditanya terlebih dahulu dan jawaban dari setiap kita adalah iya. 

Maka sejak itu kemarahanku tidak hanya tertuju kepada tuhan, tapi juga kepada diri sendiri; kenapa bisa-bisanya mengatakan iya pada saat itu? Menyusahkan diri saja.

Kemarahan itu terus bergulung, sampai berpengaruh ke banyak hal di hidupku. Orang tuaku juga sudah berusaha memberikan jawaban dari berbagai sumber, termasuk salah satu yang paling berkesan adalah saat aku dibawa ke seorang Ustad saat kelas 7 SMP.

Tapi di akhir Ustad itu hanya menyimpulkan, “Anaknya terlalu kecil untuk paham pak, bu.” Maka aku pun jadi bertanya-tanya, apakah aku yang terlalu kecil atau tuhan saja yang terlalu repot untuk dipahami? Masa tidak ada satupun penjelasan yang bisa membuatku setidaknya menerima fakta bahwa tuhan tidak jahat?

Puncak kemarahanku ada pada saat SMA, singkatnya ada satu luka yang akhirnya membuat aku berusaha mencari jawaban atas setiap pertanyaan dengan serius. Sampai akhirnya di titik itu, aku mulai menerima keberadaan tuhan seutuhnya.

Tapi kalau ditanya apakah sampai sekarang rasa ingin segera mati itu masih ada? Jawabannya masih. Tapi sudah dengan dasar yang berbeda, dan menurutku perasaan ini justru cukup menguntungkan.  

Saat kita paham bahwa hadirnya kita ke dunia untuk menyelesaikan misi tertentu yang sudah Allah titipkan, kita jadi tahu bahwa satu-satunya yang perlu kita pedulikan adalah misi tersebut. 

Terlepas dari bentuknya apa, bagaimana cara menemukannya, dan pertanyaan rentetan lainnya, kita hanya perlu yakin semua itu akan terjawab seiring berjalannya waktu.

Toh ingin kita adalah mati, bukan? Maka apa lagi yang perlu dikhawatirkan, jika rezeki kita saja sudah dijamin sampai di titik itu. Pada akhirnya yang kita perlukan hanyalah memaksimalkan; kesempatan, kemampuan, dan apa-apa yang dititipkan.

Sebab apalagi yang perlu kita khawatirkan? Tidak ada. Apalagi yang perlu kita takutkan? Tidak ada. Kita hanya perlu terus berjalan sesuai dengan inginNya, karena hanya dengan begitu kita akan bisa menyambut mati yang selama ini kita inginkan, dengan berlapang dada.

Sekian dulu cerita kali ini, semoga ada manfaat yang bisa diambil!

 

 

 

 

Komentar