Berawal dari jatuh suka pada seseorang, akhirnya aku belajar
banyak soal bentuk cinta. Aku pilih ini sebagai highlight karena bahkan sulitnya
melebihi usahku menghadapi tumor di awal tahun kemarin, pun lomba inkubasi bisnis
di akhir tahun lalu.
Tangisnya begitu banyak, keluhannya bertumpuk, durasinya juga
bukan hanya satu dua bulan. Kalau baca tulisan-tulisanku, mungkin kalian sudah
sampai bosan ‘mendengar’ aku bahas topik ini terus menerus. Tapi benar saja, ini
highlightku setahun terakhir.
Kalau ditanya apa yang paling aku mau, jawabanku masih agar
dihilangkan saja perasaannya. Karena sungguh, berat sekali rasanya harus membawa
perasaan sekuat ini tanpa bisa apa-apa. Tapi aku tahu, penolakan juga bukan
solusi. Jadi aku juga belajar untuk menerima, sambil terus bertanya apa yang sebenarnya
sedang tuhan ajarkan lewat perasaan ini?
Saking kuat perasaannya, aku sampai mempertanyakan apakah ini
yang disebut dengan cinta? Tapi dibanding memberi aku kesempatan untuk menjawabnya,
tuhan justru seperti sedang memaksaku untuk menyadari banyak bentuk cinta
lainnya, yang selama ini sudah ada di sekitarku.
Mulai dari kenyamanan hidup yang selama ini orang
tuaku usahakan, kehadiran adik-adikku yang suportif, keberadaan teman-temanku yang satu
frekuensi, sampai kesempatan-kesempatan baru yang tuhan berikan, aku rasa itu
semua juga bentuk cinta; yang selama ini belum aku apresiasi dengan baik, dan baru
aku syukuri seadanya.
Entah apakah itu benar-benar yang tuhan maksud, tapi sepertinya pelajaran soal cinta ini masih akan panjang perjalanannya. Jadi seperti biasa, mohon doanya teman-teman. Semoga di umur barunya ini, aya terus dimampukan untuk memilih pilihan yang bijak, dan selalu ingat bahwa satu-satunya yang pasti hanyalah kematian.
Aamiin yaa rabb. Semoga doa-doa baiknya kembali ke kalian dalam bentuk yang jauh lebih baik, terimakasih sudah hadir jadi bagian dari pembacaku!

Komentar
Posting Komentar