Perjalanan (Bisnis) ke Turki

Aku kira agak lebay untuk menyebut perjalanan kemarin sebagai perjalanan bisnis, tapi setelah hitung-hitungan di akhir dan aku benar-benar membawa pulang untung; aku rasa tidak akan berlebihan menyebut perjalanan kemarin sebagai perjalanan bisnis?

Kalau mau jujur sebenarnya aku membawa ketakutan besar saat berangkat ke Turki kemarin, bagaimana jika aku pulang dengan koper kosong? Alias gaada yang beli jastipan Turki-Indonesiaku sama sekali, karena aku sendiri tahu kalau followersku bukan pasarku.

Tapi ternyata ketakutan itu juga yang bikin perjalanan kemarin sangat hidup, tentu setelah pertemuanku dengan teman-temanku. Ada banyak hal baru di sana, ya sebenarnya gak baru-baru amat, tapi kembali merasakan jual barang yang belum pernah aku jual sebelumnya, ke target pasar yang juga belum pernah jadi target pasarku; cukup menarik.

Kejadian ini mengingatkan aku atas pertanyaan yang hadir tepat setelah wisuda 2 tahun lalu, jika keinginanku setelah ini adalah untuk menjelajah sebanyak-banyaknya tempat baru, dengan apa aku akan wujudkan itu?

Beberapa orang menjawab pertanyaan yang sama dengan mengejar beasiswa. Tapi aku rasa aku tidak akan menyanggupinya, setidaknya dalam waktu dekat.

Beberapa orang juga menjawabnya dengan berusaha menjadi influencer. Tapi sepertinya itu juga bukan opsi yang menarik, karena artinya ‘kemunculan’ku akan dilihat banyak orang, dan itu bukan sesuatu yang aku inginkan.    

Maka jawaban terakhirnya adalah dengan bekerja. Tapi resiko yang harus aku ambil dari pilihan tersebut adalah aku tidak akan pergi sejauh jika aku memperjuangkan beasiswa atau menjadi influencer.

Setidaknya begitu hitung-hitunganku, dan bisa dilihat dari destinasi yang aku kunjungi beberapa waktu ke belakang. Sampai akhirnya Allah jawab prasangkaku tersebut dengan memberikan aku kesempatan untuk balik  ke Turki, lewat jalur ‘nyari uang’.   

Ekspektasi yang aku bawa kemarin gak besar. Setidaknya aku mau kembali bertemu teman-temanku tanpa harus mengeluarkan uang sepeser pun. Udah. Sesederhana itu. Tapi melihat bagaimana Allah memudahkan jastipan Turki-Indonesiaku juga, di situ aku sadar, mungkin aku sedang disenggol untuk bermimpi lebih tinggi lagi?

Karena rasanya, perjalanan kemarin seperti sebuah jawaban kalau mimpi untuk bisa menjelajah sebanyak-banyaknya tempat baru lewat jalur bekerja itu tetap bisa bawa kamu pergi jauh kok, ya. Kemarin memang baru ke Turki, tapi mungkin besok akan ke Eropa atau Amerika?

Siapa tau, kan.

Jadi selayaknya aku yang merasa sedang disenggol untuk bermimpi lebih tinggi lagi, mungkin itu juga yang perlu kalian lakukan; jangan takut untuk bermimpi, dan memperjuangkannya. Karena soal hasil, Allah langsung yang akan merealitakan dalam bentuk terbaiknya nanti!      

Komentar