Sekitar seminggu terakhir inputku sedang banyak soal ekonomi, dan dari semua sumber itu rasanya seperti sedang ditekankan, kalau ekonomi adalah ilmu memilih. Ilmu yang menjelaskan bagaimana seseorang memperhitungkan pilihannya, itulah ekonomi.
Sesuatu yang belum aku dapatkan maknanya saat belajar
ekonomi sebagai ‘ilmu tentang bagaimana individu dan masyarakat mengelola
sumber daya yang terbatas untuk memenuhi kebutuhan yang tidak terbatas’.
Aku kira selama ini makna sumber daya disitu adalah sumber
daya alam, maka tak pernah terpikirkan bagiku kalau memilih antara susu coklat
dan vanilla saja sudah jadi bagian dari ekonomi. Karena sumber daya bagi setiap
orang bisa berbeda, baik itu jenis maupun skalanya.
Dari situ aku jadi teringat bagaimana cara orang tuaku mengajarkan aku
dalam memilih sesuatu. Karena ini juga aku jadi paham kenapa dulu aku
diperbolehkan homeschooling, sedangkan adikku tidak. Jawabannya sesederhana,
karena dasar kita dalam memilih pilihan tersebut.
Pertama kali aku (sadar) diajarkan konsep ini saat SMP, waktu
itu aku nangis karena merasa gak betah ada di pesantren. Akhirnya aku didudukan
di depan mereka, sambil mereka jabarkan setiap opsi lain yang bisa aku pilih, beserta
dengan pro dan kontranya.
Jadi bisa saja saat itu aku keluar, jika siap menerima
konsekuensi dari pilihan tersebut. Tapi saat itu konsekuensi yang paling bisa
aku terima justru adalah bertahan di pesantren, maka itulah yang aku pilih.
Saat SMA kelas 1 kejadian itu terulang lagi. Bedanya ‘rapat’
kali ini terasa lebih serius, karena bukan saja aku didudukan di depan mereka,
tapi juga bersama selembar kertas. Di situ kita corat-coret bersama soal opsi apa
saja yang bisa aku pilih beserta dengan konsekuensinya.
Berbeda dari sebelumnya, saat itu aku merasa siap atas
resiko yang harus aku terima jika mengambil opsi lain selain bertahan. Maka saat
itu aku keluar, dengan rasa bangga atas pilihanku sendiri.
Tanpa sadar, itulah yang aku jadikan pegangan setiap
dihadapkan pada pilihan; menjabarkan setiap opsi yang ada sambil menuliskan pro
dan kontra dari setiap opsi tersebut. Karena jika aku memilih sesuatu, orang
tuaku akan memastikan apakah aku siap menerima setiap resikonya.
Maka begitu juga yang selalu aku lakukan pada diriku sendiri;
memastikan aku akan siap menerima resiko dari setiap pilihanku. Termasuk yang
terburuk sekalipun. Bahkan bisa dibilang, termasuk pilihan-pilihan impulsifku.
Sebenarnya agak kurang tepat menyebutnya sebagai impulsif. Karena
bisa dipastikan aku telah menjabarkan pro dan kontra dari pilihan tersebut,
hanya saja dalam waktu yang singkat. Dan saat aku memutuskan, di titik itulah
aku telah merasa siap untuk menerima kemungkinan terburuknya.
Sekarang aku jadi sadar seberapa besarnya pengaruh mereka
atas pola pengambilan keputusanku itu. Ternyata mereka telah mengajarkanku ilmu
ekonomi, jauh sebelum aku paham apa itu ekonomi.

Komentar
Posting Komentar