Mungkin Aku Terlalu Sombong dengan Usahaku

 

Aku pernah dengar, kalau keberuntungan adalah pertemuan antara kemampuan dan kesempatan. Sejak itu tanpa sengaja aku seperti menjadikannya bagian dari nilai hidup yang aku pegang; mengusahakan apapun itu semaksimal mungkin, agar saat ada kesempatan datang aku tidak akan perlu menolaknya dengan alasan “tidak siap”.

Benar saja, aku jadi selalu bisa mengatakan iya setiap ada kesempatan datang. Kalaupun aku tolak, alasannya adalah karena memang aku tidak mau, bukan tidak siap. Jadi aku percaya, selama aku bersiap, aku akan bisa menghadapi apapun itu yang ada di depan.

Termasuk urusan percintaan. Sejak mengenal ulang islam 5 tahun lalu, aku juga langsung belajar tentang pernikahan dan parenting. Bukan karena ingin secepatnya, tapi sesederhana karena aku tahu kalau fase itu akan datang. Jadi daripada nanti aku bingung, aku memilih untuk bersiap sesegera mungkin.    

Sampai akhirnya aku bisa memetakan visi-misi hidup, kriteria pasangan, sampai pendidikan anak seperti apa yang aku inginkan 3 tahun lalu. Di situ aku merasa sudah siap, jika memang fase itu harus datang. Tanpa tahu siapa orangnya, dan kapan waktunya.

Karena pegangan itulah akhirnya aku bisa santai setiap ada laki-laki yang datang, karena aku tahu apa yang aku cari. Tapi aku lupa, kalau sekenarionya tidak selalu begitu. Bagaimana jika aku duluan yang menemukan apa yang aku cari pada seseorang yang belum siap untuk datang?

Sungguh di luar prediksi, aku belum pernah bersiap untuk sekenario itu.

Rasanya seperti terjebak. Karena aku tidak punya opsi untuk melakukan apapun, disaat aku terbiasa mengusahakan sesuatu, bahkan untuk hal-hal yang masih sekedar kemungkinan. Aku terbiasa mengusahakan sesuatu sampai akhir; sampai tidak ada lagi kemungkinan untuk tetap maju.

Tapi aku lupa, kalau urusan cinta tidak pernah hanya sepihak. Memaksakan keadaan hanya karena aku sudah merasa siap adalah sebuah keegoisan, bukan? Di titik itulah aku mulai bertanya pada tuhan, apakah usahaku dalam bersiap selama ini belum cukup juga untuk menjadikanku pantas masuk ke dalam fase tersebut?  

Pertanyaan itu terus aku bawa, sampai aku mendapat teguran dari seseorang. Katanya, mungkin selama ini aku terlalu fokus pada usahaku, disaat jodoh adalah bagian dari takdir. Ah, di situ aku baru sadar, seberapa jauh aku sudah mencampuri urusan tuhan.

Padahal bersiap masuk ke dalam koridor usaha, sedangkan jodoh masuk ke dalam koridor takdir. Dan mempertanyakan apakah usahaku selama ini belum cukup menjadikan aku pantas untuk mendapatkan jodoh adalah bentuk mencampurkan keduanya.

Karena itulah akhirnya aku kembali sadar apa alasanku selama ini memilih untuk bersiap; sekedar agar bisa maksimal saat diberi kesempatan. Tapi jika kesempatannya belum datang? Bukan berarti usahaku sia-sia.

Jadi mungkin jatuhnya aku pada seseorang kemarin sebagai bentuk pengingat, untuk kembali menempatkan usaha dan takdir pada koridornya masing-masing. Tanpa mencampurkan keduanya. Iya, mungkin itu yang sedang tuhan ajarkan. Dan pesan itu juga yang ingin aku bagikan pada kalian.

Komentar