Mindset yang akan Kembali Aku Bawa di 2026

Sejak dulu, menanyakan apa harga dari sebuah pencapaian selalu jadi hal yang aku lakukan sebelum iri pada seseorang. Saat melihat seseorang dengan pencapaiannya yang menarik perhatian, aku akan mulai bertanya sebesar apa usahanya? Apa yang harus dia korbankan untuk mendapatkan itu?

Jika aku tahu bahwa aku bisa berusaha sebesar usahanya dan rela mengorbankan seperti apa yang dia korbankan, aku baru akan memperbolehkan diriku untuk iri. Jika tidak, aku hanya akan bilang, toh aku tidak akan sanggup membayarnya, jadi untuk apa aku iri?

Seiring berjalanannya waktu, aku menyadari kalau sepertinya tidak akan ada habisnya jika kita terus menjadikan pencapaian orang lain sebagai tolak ukur sejauh mana pencapaian kita, karena akan selalu ada yang lebih dan lebih lagi.

Jadi aku mulai menggeser tolak ukur atas pencapaianku sendiri; tidak lagi dari sebesar apa pencapaian tersebut, tapi seberapa enjoy aku mengusakannya? Karena pikirku selama aku enjoy, bukankah aku tidak akan mudah iri dengan orang lain? Toh belum tentu aku enjoy jika harus melewati proses yang sama dengan mereka.

Tanpa sadar, mindset ini juga ikut menggeser bagaimana sudut pandangku atas pencapaian orang lain. Dari yang biasanya hanya menanyakan seberapa besar usaha mereka dan apa yang harus mereka korbankan, aku juga jadi menanyakan, apakah mereka enjoy dengan semua itu?

Jika jawabannya iya, aku akan ikut senang. Jika jawabannya tidak, aku akan ikut berempati atas proses berdamai yang masih mereka usahakan dengan segala pengorbanan yang harus mereka bayar untuk pencapaian itu.

Bukan berarti yang enjoy lebih baik dari mereka yang tidak, karena seringkali memang ada beberapa faktor di luar kendali yang memaksa seseorang untuk berusaha lebih. Dan karena usaha lebih tersebut mereka bisa terlihat hebat dari luar, tapi struggle secara internal.

Atau ada juga mereka yang memang menaruh tolak ukur kebahagiaannya pada hasil akhir, jadi tidak terlalu peduli apakah mereka enjoy atau tidak atas prosesnya. Dan aku tidak menyalahkan itu, toh memang pilihan mereka.

Tapi dengan mengambil mindset ini sebagai tolak ukur, aku jadi tidak lagi merasa tertinggal oleh siapapun. Bukan hanya karena aku tahu kalau setiap orang punya timeline-nya masing-masing, tapi juga karena aku tahu bahwa aku sangat menikmati prosesku sendiri.  

Bahkan sekarang aku jadi lebih banyak memastikan apakah orang-orang di sekitarku enjoy atau tidak dengan proses mereka? Karena aku tahu, rasa enjoy itulah yang akan lebih membantu mereka bertahan di masa-masa sulit, dibanding sekedar pencapaian tertentu.

Kalau kalian, mindset apa yang ingin kalian bawa terus?


Komentar