Sebuah chapter hidup yang aku kira akan aku simpan sendiri,
tapi sepertinya sudah aku temukan titik akhirnya, jadi mari aku ceritakan.
Di luar dari larangan agama, selama ini aku belum menemukan
alasan logis dibalik orang berpacaran (atau ya hts-an). Apalagi mereka yang
paham bahwa itu dilarang, tapi tetap memilih jalan tersebut. Maka saat orang
bercerita tentang hubungannya, aku sebagai teman biasanya akan lebih banyak
mendengarkan saja;
Pertama, karena toh mereka sudah tahu itu dilarang, jadi apa
gunanya juga aku bicara soal itu? Dan kedua, sungguh aku tidak tahu bagaimana
caranya berempati pada pilihan mereka, jadi daripada kalimatku akan menyakiti,
aku memilih diam.
Sampai akhirnya di tahun ini aku bisa bilang, “ah sepertinya
aku mulai paham kenapa mereka memilih pacaran”. Tanpa maksud membenarkan sama sekali, tapi
mungkin lewat sini akhirnya Allah mengajarkanku untuk berempati.
Di beberapa bulan ke belakang, sudah ada 3 orang yang
mempercayakan cerita soal masalah hubungannya kepadaku. Di titik itu aku jadi
sadar, bagaimana caranya untuk hadir dan nge-gapapain keadaan mereka dulu, baru
setelahnya bertanya “Masih mau dengar jawaban objektifnya atau tidak?”
Karena iya, mungkin selama ini menghindari dosa pacaran
mudah bagiku sebab Allah tidak pernah menempatkanku pada posisi sulit itu. Tapi
porsi setiap orang berbeda, dan mungkin itu memang porsi ujian mereka.
Dan yang kedua, lagi-lagi di akhir tahun ini aku harus mengatakan “tidak” pada tawaran seorang laki-laki. Aku yang di awal tahun mungkin akan menghadapinya dengan mengatakan tidak sambil juga mempertanyakan,
"Apakah standarku terlalu
tinggi? Apakah aku harus mulai berkompromi dengan beberapa poin di daftar
list-ku? Apakah pilihanku tersebut sudah tepat?"
Tapi menemukan seseorang yang bisa menceklis banyak poin di
daftar list-ku tahun ini, cukup berhasil membuatku bisa mengatakan tidak dengan
percaya diri. Iya aku masih belum tahu siapa jodohku nantinya, tapi setidaknya
aku jadi tahu, bahwa daftar list-ku tidaklah berlebihan.
Pun kalaupun orangnya memang bukan dia, bukankah artinya akan Allah hadirkan yang setara atau bahkan lebih?
Maka di sinilah aku sekarang, berusaha memetik hikmah dari
perjalanan panjangku setengah tahun ke belakang. Perjalanan rasa yang sulit
dijelaskan oleh logika, perjalanan yang membuatku menemukan versi lain dari
diriku sendiri, perjalanan yang mejadikan opsi diam menjadi pilihan terbaik;
disaat diam adalah hal yang paling aku benci.
Entah akan seperti apa akhir ceritanya, tapi tulisan ini
hadir sebagai bentuk syukur; akhirnya Allah jawab pertanyaan terbesarku selama
ini; apa sebenarnya maksudMu menitipkan rasa ini sekarang?
Terimakasih ya Allah, sungguh terimakasih.

Komentar
Posting Komentar