Di Balik Pertanyaan Kenapa atas Hidup



Di tengah banyaknya pertanyaan ‘kenapa?’ yang sedang aku miliki beberapa bulan terakhir, sepertinya satu nasihat ini berhasil hadir untuk menjawab semua pertanyaan tersebut,

“Allah memberi apa yang kita butuhkan, bukan inginkan”

Biasanya nasihat ini aku tempatkan pada koridor tawakal. Memberi keyakin kalau apapun nanti hasil dari apa-apa yang sedang aku usahakan, sudahlah pasti yang terbaik.

Tapi merenunginya kembali, mungkin kali ini aku perlu  menempatkannya pada koridor bersyukur? Menjadikannya pengingat bahwa apa yang sedang terjadi sekarang adalah sesuatu yang memang aku butuhkan.

Iya mungkin inginku berbeda. Tapi bahkan aku sendiri tidak bisa memastikan, apakah inginku tersebut sesuai atau tidak dengan kebutuhanku.

Jika benar begitu, bukankah pertanyaannya bukan lagi kenapa, melainkan apakah aku sudah memaksimalkan apa-apa yang ada?

Apakah aku sudah memaksimalkan setiap kesempatan yang aku miliki sekarang?

Apakah aku sudah memaksimalkan segala sumber daya yang sudah Allah titipkan?

Apakah aku sudah memaksimalkan hal-hal yang mungkin saking biasanya, sering aku abaikan?

Menempatkan nasihat ini pada ranah bersyukur, setidaknya telah berhasil mengingatkanku bahwa apa yang aku inginkan serta pertanyakan sekarang tidak harus selalu dibalas dengan jawaban, melainkan penerimaan;

Penerimaan kalau bisa jadi dengan mendapatkannya sekarang, aku belum tahu cara mensyukuri sesuai dengan inginNya.

Penerimaan kalau bisa jadi jika jawaban tersebut datang sekarang, hatiku belum cukup lapang dalam menerimanya.

Penerimaan kalau bisa jadi jika segala inginku dijawab sekarang, aku belum paham cara memaksimalkannya dengan baik.

Dan runtutan penerimaan-penerimaan lainnya, yang bisa jadi adalah jawaban dari kenapa segala ingin dan tanyaku belum juga kunjung terjawab.

Mungkin baru akan terjawab esok hari? Bulan depan? Tahun depan? Atau entah berapa lama lagi dari sekarang. Tapi semoga keyakinan kita atas takdir bahwa segala sesuatu yang terjadi pastilah sudah yang terbaik itu, tidak akan pernah pudar.  

Sekian ceritaku hari ini, semoga ada manfaat yang bisa diambil!

 

Ps. Katanya Kak Ama kangen baca ‘kalimat penutup’ yang biasanya selalu ada di tulisan aya itu, jadi kali ini aku balikin:)

 

 

 


Komentar