Justru Aku yang Belajar dari Mereka.

 

Pengabdian kemarin dimulai dari menyapa Ibu Desi, pendiri Rumah Belajar Merah Putih. Membicarakan bagaimana acara besok akan berjalan, pun keadaan anak-anak serta latar belakang mereka.

Sakit rasanya. Mengetahui bagaimana ada dari mereka yang tidak punya akte kelahiran karena orang tuanya tidak peduli, mereka yang harus menghadapi realita kehidupan tanpa kehadiran bapak maupun ibu, ataupun mereka yang harus menghadapi kekerasan seksual sejak kecil dari keluarganya.   

Terdiam dan merenungi seberapa beruntungnya aku selama ini rasa-rasanya jadi hal yang kurang. Iya memang kita sering diajarkan untuk melihat ke bawah agar banyak bersyukur, tapi tidak pernah terpikir olehku, kalau terlibat langsung bersama mereka akan sampai menyayat hati begitu dalam.

Bayangan awalku atas volunteering adalah berkontribusi langsung untuk sekitar, tapi melihat bagaimana keadaan langsungnya di lapangan kemarin membuatku mulai bertanya; apakah aku sudah benar-benar berkontribusi?

Ada keterbatasan akses yang terpaksa harus mereka telan, keterbatasan fasilitas serta kesempatan yang tidak bisa mereka dapatkan, juga kurangnya tenaga pengajar yang padahal dengan pendidikan yang tepat akan bisa membuka kesempatan yang lebih luas kepada mereka.

Sedangkan datangnya kita kemarin rasa-rasanya baru mampu memberikan sedikit tawa saja, tanpa bisa terlibat lebih jauh dari itu.

Kalau mau marah, sebenarnya aku sangat marah dengan pemerintah. Bisa-bisanya mereka menyia-nyiakan bakat anak-anak luar biasa yang penuh dengan semangat meski di tengah segala keterbatasannya.

Seharusnya ini tanggung jawab kalian hei, pemerintah. Seharusnya kalian paham itu.  

Karena sebesar-besarnya kontribusi sekitar, termasuk tim Rumah Belajar Merah Putih sekalipun, bukankah akan sulit mengajarkan anak yang diajarkan oleh orang tuanya bahwa uang lebih penting daripada pendidikan; maka jaga warung, jadi lebih penting dari pergi ke sekolah?

Mungkin untuk sekarang aku baru bisa berkontribusi memberikan sedikit tawa. Tapi pengalaman kali ini benar-benar meninggalkan bekas tersendiri; bahwa ada mereka yang membutuhkan solusi lebih tersistematis dari sekedar bantuan.

Entah akan dalam bentuk apa dan bagaimana, tapi untuk sekarang doanya, semoga Allah pantaskan aku untuk bisa hadir menjadi bagian yang bisa memberikan kontribusi secara lebih tersistematis tersebut. 

Aamiin yaa rabb.        


Komentar