Emang Boleh Seberkesan Itu?

 

4 hari 4 malam yang rasa-rasanya seperti hadiah. Mulai dari tujuan Baduy yang memang sudah dari lama jadi wishlist, sampai keberangkatan yang penuh plot twist. Karena pas banget di tanggal keberangkatan, ada kemungkinan aku harus wawancara offline. Tapi entah kenapa walaupun belum tau bakal bisa berangkat atau enggak, dari awal yakin aja buat tetep daftar.

Dan Alhamdulillah-nya, bisa.

Perjalanan kita dimulai dari stasiun Rangkas ke Kampung Mualaf Baduy yang total perjalanannya kurang lebih 2 jam, naik mobil elf seada-adanya tanpa AC. Lewatin jalan yang jauh dari kata mulus, bahkan ban mobil kita sempat pecah di tengah jalan.

Tapi tahu apa yang aku temukan? Orang-orang yang tetap ceria seperti tanpa beban seakan-akan semuanya bukan masalah —ya walaupun dengan muka ngantuknya masing-masing karena itu jam 12 malam;) tapi sungguh, di luar itu aku sangat respect.

Besoknya kita udah harus siap-siap dari pagi untuk pergi ngajar ke sekolah-sekolah, 2 hari untuk ke 3 sekolah berbeda. Lalu dilanjut sorenya kita main dengan anak-anak warga sekitar kampung tempat kita tinggal, dan dilanjut belajar ngaji setelah maghrib.

Di sana aku melihat, ketulusan.

Bukan sekedar dari guru-guru yang ada di sana, tapi juga dari teman-teman volunteer. Mulai dari semangat yang terlihat saat mengajar, keceriaan yang ditularkan ke anak-anak, sampai kehangatan yang terus terpancar dari setiap sapaan dan pelukan.  

Aku sampai berkali-kali mempertanyakan, apakah aku akan bisa sehangat mereka? Bukan sekedar sapaan basa-basi saja yang dilontarkan, tapi sapaan yang tulus dari hati, yang energinya bisa sampai kembali ke hati.

2 hari berikutnya dilanjut dengan perjalanan ke Baduy dalam. Perjalanan yang aku kira akan singkat saja selayaknya trekking di Sentul; ternyata hampir sama dengan durasi naik gunung yang ¼ hari itu. Tapi tahu apa yang aku dapati di sepanjang perjalanannya?

Semangat orang-orang yang tetap berjalan meski lelah, tetap tersenyum meski terlihat ingin menyerah, dan juga manusia-manusia penuh energi yang saling mengisi satu sama lain. Mereka punya opsi menyerah, loh? Mereka juga punya opsi mengeluh? Tapi mereka tetap memilih berjuang sampai akhir.

Bahkan di tengah lelahnya, mereka tetap memilih bertanya apakah yang lain baik-baik saja? Apakah ada yang butuh bantuan? Pun dengan sukarela membantu tanpa ada yang meminta. Ah sungguh, aku belajar banyak.

Dari sini aku sadar bahwa lagi-lagi Allah telah mempertemukanku dengan mereka yang hatinya dekat denganNya. Hati-hati yang sudah merasa cukup atas pemberianNya, maka tanpa pamrih juga akan memberi kepada sekitar dengan sepenuh hati; sampai-sampai begitu terasa ketulusannya.

Terimakasih teman-teman semua, semoga kita bisa bertemu kembali di kebaikan-kebaikan lainnya!

 

  

Komentar