![]() |
| Sumber: Pinterest |
Di tuliasan sebelumnya tidak hanya disinggung soal
bisnis, tapi juga strategi dan kolaborasi. Jika makna bisnis hanya terbatas
pada bisnis, aku rasa strategi dan kolaborasi bisa dipakai di mana saja. Yang membuat
keduanya menarik, untuk dibahas secara terpisah.
Dimulai dari strategi. Apa itu strategi? Aku sendiri gak bisa jawab saat diberi pertanyaan ini kemarin. Karena sejauh yang aku tahu, strategi ya strategi. Padahal jika pemahaman seseorang atas strategi hanya sebatas itu, aku sendiri yakin, orang tersebut akan mati kutu saat diberi tugas untuk membuat strategi.
Kerancuan ini juga yang akhirnya memunculkan banyak makna
baru tentang apa itu strategi. Sebuah pemahaman yang membuat strategi tidak lagi
efektif, dan berakhir kehilangan fungsinya sebagai sebuah solusi (seperti yang dibahas sebelumnya; kata
sabar jika hanya dimaknai sabar, tanpa aksi tertentu).
Sederhananya, strategi adalah sebuah langkah yang dibuat
untuk menyelesaikan sebuah masalah. Jika langkah tersebut masih sama sulitnya
dengan masalah yang dihadapi, maka strategi tersebut dianggap gagal.
Seperti misalnya perusahaan yang membuat strategi ‘menjadi
perusahaan terbaik’. Ini termasuk strategi gagal, karena ‘menjadi perusahaan
terbaik’ seharusnya adalah tujuan; yang perlu dijabarkan apa
langkah-langkahnya?
Kalau masalahnya adalah bukan perusahaan terbaik dan strateginya
adalah menjadi perusahaan terbaik, ini yang disebut sebagai strategi yang sama sulitnya
dengan masalah; dia tidak menyederhana-kan apapun, yang akhirnya membuat
strategi kehilangan fungsinya sebagai solusi.
Maka kemampuan pertama yang harus dimiliki seseorang untuk
bisa membuat strategi yang baik adalah mengidentifikasi masalah. Ini adalah
kemampuan paling utama. Karena jika masalah yang ditetapkan sudah salah, maka
strategi yang akan dibangun selanjutnya hanya akan mengantarkan kepada kegagalan.
Kedua soal kolaborasi. Sejauh pemahamanku sebelum ini,
kolaborasi sama artinya dengan kerja sama; ya kerja bersama-sama. Tapi apa
kalian tahu, kalau kolaborasi yang dibangun dari kemampuan yang sama, hanya
akan berujung perpecahan?
Tujuan yang sama saja tidak cukup untuk membangun sebuah
kolaborasi yang efektif. Perlu pembagian tugas di dalamnya. Karena misal jika
kita berkolaborasi dengan seseorang, organisasi, atau instansi yang kemampuannya sama
dengan milik kita, hampir bisa dipastikan nanti di tengah perjalanannya akan
ada ‘perebutan pengakuan’.
Entah itu yang satu merasa berkontribusi lebih banyak, yang lain
menuntut lebih, satu sama lain saling menyalahkan, atau masalah-masalah lainnya
yang sejenis. Berbeda jika tugas atau kemampuan dari masing-masing pihak yang
berkolaborasi berlainan, mereka akan saling mengisi antara satu sama lain.
Maka kemampuan paling utama dari berkolaborasi sebenarnya
adalah mengidentifikasi kekurangan serta kelebihan. Apa kekurangan dan
kelebihanku? Begitu juga apa kekurangan dan kelebihan calon kolaborator? Jika sudah
sama-sama memahami kekurangan dan kelebihan, maka kita akan tahu mana koridor
kerja dari masing-masing pihak.
Jadi sambil sama-sama menuju kepada tujuan yang sama, setiap
pihak akan fokus berkontribusi pada koridornya, tanpa mencampuri koridor
kolaboratornya. Ini adalah konsep dasar yang akan mengantarkan kita pada
sebuah kolaborasi yang efektif.
Jadi sekarang aku paham, kenapa kolaborasi seringkali
berakhir perpecahan. Karena adanya pembagian tugas yang belum jelas saat awal kolaborasi
berjalan. Sehingga satu sama lain akhirnya memiliki persepsinya masing-masing
atas tujuan yang sedang coba mereka tuju bersama.
Sekian dulu, semoga ada manfaat yang bisa diambil.

Komentar
Posting Komentar