![]() |
| Sumber: Pinterest |
Kalian pernah bertanya tidak, sebenarnya apa itu sabar? Atau apa itu Ikhlas?
Mungkin beberapa orang akan bilang, ya itu mudah aja. Sabar
ya sabar, ikhlas ya ikhlas. Tapi pada prakteknya, masih banyak orang yang salah
dalam memaknai 2 kata tersebut. Bahkan tak sedikit yang memaknai sabar maupun
ikhlas berarti pasrah begitu aja tanpa mengusahakan apapun.
“Kita terlanjur dididik oleh kata-kata abstrak, yang
menyebabkan kebanyakan kita jadi mudah menerima doktrin-doktrin gak logis (misal dukun,
dll)” kurang lebih begitu kalimat yang aku dengar sekilas dari salah satu
podcast.
Aku sendiri langsung setuju dengan pembahasan tersebut. Cukup
nyambung dengan beberapa topik yang sedang aku pelajari beberapa waktu ke
belakang. Tapi ini bukan tentang sabar ataupun ikhlas yang dijadikan contoh
oleh pembicara, tapi sesuatu yang lebih khusus; bisnis, strategi, dan kolaborasi.
Kebanyakan kalian pasti tahu apa itu bisnis, tapi apakah
kalian pernah bertanya apa itu bisnis sebenarnya? Bisnis seperti apa yang
efektif? Atau pertanyaan yang sama kepada strategi dan kolaborasi; apa itu strategi?
Kolaborasi seperti apa yang sebenarnya efektif?
Akhirnya kita baru akan paham jawaban dari
pertanyaan-pertanyaan tersebut setelah memahami dasarnya. Dari sana kita akan
mulai bisa tahu keputusan ataupun arah mana yang mau di ambil selanjutnya,
karena dasarnya sudah terbentuk dengan baik.
Misalnya seperti bisnis, jika pemahaman seseorang atas
bisnis masih hanya sekedar sumber pendapatan, maka kemungkinan besar bisnis tersebut
tidak akan berkembang sebagai bisnis. Karena fokusnya ada pada berapa banyak
yang bisa didapatkan dari sana?
Tapi jika kita kembali pada dasar, yang mana membangun
bisnis berarti membangun sistem, dan salah satunya adalah keuangan, kita akan memahami
bahwa keuangan bisnis seharusnya terpisah dari keuangan pribadi. Gak bisa apa
yang dihasilkan oleh bisnis berarti otomatis bisa dipakai untuk kebutuhan
pribadi. Keduanya harus diatur secara terpisah.
Tapi jika pemahaman dasarnya atas bisnis masih sekedar
sumber pendapatan, biasanya seseorang akan cenderung memakai hasil bisnisnya
dengan sesuka hati. Bahkan bisa jadi, atau malah kebanyakan kasus, modal
bisnisnya ikut terpakai juga; untuk kebutuhan pribadi.
Yang pada akhirnya, bisnis tersebut tidak akan punya kesempatan
untuk berkembang. Karena toh menurutnya selama mencukupi kebutuhan, berarti
bisnisnya baik-baik aja.
Sebuah pemahaman yang baru aku dapatkan setelah memahami
dasar bisnis. Yang tidak aku dapatkan jika mempelajarinya dari cabang-cabang ilmu
tertentu. Iya memang dasar keuangan diajarkan dalam ilmu keuangan, tapi pemahaman
bahwa seseorang bisa memutuskan pilihan tertentu, baru bisa dipelajari saat
kita memahami apa sebenarnya yang mendasari pemikiran orang tersebut.
Bagiku begitu juga dengan kata-kata abstrak lainnya,
terutama yang berhubungan dengan spiritual. Aku sendiri masih sangat
menyayangkan pola pendidikan kita yang tidak menyertakan penjelasan di
baliknya; kalo disuruh sabar ya berarti diem. Udah, cukup sampai disitu.
Alasan itu juga yang membuat aku sangat benci dengan kata
sabar, sampai akhirnya belajar bahwa ternyata sabar itu berada di koridor rasa,
yang untuk mencapainya harus dibersamai dengan sebuah ikhtiar tertentu.
Barulah dari sana, aku bisa menerima bahwa sabar benar-benar
bisa menjadi solusi. Bukan sekedar kata abstrak yang ‘memaksa’
aku untuk diam dan tidak melakukan apa-apa.
Selayaknya aku yang mulai menikmati untuk memahami sesuatu
dari dasar. Aku rasa kalian juga harus coba; dalam perkara apapun! Karena dengan
begitu, kita akan bisa dengan lebih mudah mengambil langkah-langkah efektif untuk mewujudkannya.
Sekian dulu, semoga ada manfaat yang bisa diambil.

Komentar
Posting Komentar