![]() |
| Sumber: pinterest |
Ada satu pertanyaan menarik yang pernah orang tanyakan
sampai aku sendiri merenung setelahnya, “Aku iri deh sama gimana santainya kamu
jalanin hidup, tapi ada gak sih efek samping dari hal tersebut?” Hm, saat itu
juga aku langsung muter otak, “Ada”.
“Aku emang tipe yang gak mudah terpengaruh sama hidup orang
makanya gak gampang iri, tapi karena alasan yang sama, aku jadi gak mudah
termotivasi” Kalau kebanyakan orang lihat mereka yang berprestasi akan punya perasaan,
“Ih aku pengen jadi kayak dia”
“aku jadi termotivasi karena liat dia” dan lain sebagainya. Reaksiku
sebatas, “Kalo dia bisa ya cukup dia aja, ngapain aku juga?”
Riil, jujur sedatar itu. Awalnya aku pernah mempertanyakan
apakah respon tersebut adalah sesuatu yang salah? Tapi sejak hari itu akhirnya
aku menyimpulkan, bahwa respon yang aku miliki hanyalah sisi lain dari ‘kelebihan’
yang aku miliki.
Pada akhirnya kita semua akan sadar bahwa setiap manusia
pasti memiliki kelebihan dan kekurangan. Begitu juga orang tua kita, mentor
kita, senior kita, termasuk juga orang yang kita kagumi. Mereka semua sama
seperti kita; hanya sebatas manusia.
Tapi sayangnya sudut pandang yang kebanyakan kita sering pakai
adalah “Mereka lebih dari kita”, sehingga disaat kita punya kekurangan,
seakan-akan mereka jadi seseorang yang gak boleh punya kekurangan. Padahal tanpa
kita sadari, kita jadi menuntut mereka, hanya karena mereka harus memenuhi
ekspektasi kita.
Ini juga jadi salah satu proses tersendiri bagiku. Sebelum ini
aku mudah kesal dengan mereka yang gak punya kemampuan yang sama,
“Kenapa gitu doang gak bisa sih?” tanpa menyadari ada juga hal-hal lain yang
gak aku bisa.
Sebelum ini aku juga mudah dengki jika melihat mereka yang
punya kelebihan sama, namun berada lebih atas dariku. Tapi setelah memahami
bahwa kita hanya berbeda saja, aku jadi lebih mudah berempati dan gak
mempermasalahkan hal seperti itu.
Aku rasa proses-proses ini juga yang akhirnya bisa
mengantarkan aku ke fase menjadi seseorang yang lebih santai. Karena pada
akhirnya, penilaian yang aku pakai adalah bagaimana cara mereka menyikapi
kelebihan maupun kekurangan yang mereka miliki.
Jika seseorang memiliki kelebihan dan ia pakai itu untuk
kebaikan, maka aku akan respect. Tapi sebaliknya, jika kelebihan
tersebut justru menjadi ancaman untuk orang lain, aku akan menjaga jarak
sebagai tanda hilangnya respect.
Sedangkan dengan kekurangan, aku akan respect dengan
mereka yang menyadarinya, lalu mengusahakan untuk tidak membatasi diri, dan
menjaga jarak dari mereka yang merasa terbatasi dengan kekurangan
tersebut.
Tapi kenapa harus menjaga jarak? Karena kalau tidak, kita
hanya akan terjebak pada sesuatu yang toxic. Bayangkan aja
kelebihan mereka bisa membuat kita inferior, sehingga kita gak akan pernah bisa
bertumbuh melebihi atau setidaknya sama dengan mereka.
Atau dengan mereka yang terlalu membatasi diri dan gak mau
bertumbuh? Maka cepat atau lambat, kita juga akan menjadi seperti mereka yang
terjebak dalam cangkang yang mereka sendiri sebut sebagai kekurangan.
Bagiku menjadikan sikap seseorang atas kelebihan dan
kekurangannya sebagai indikator respect kita atas mereka jauh
lebih bijak, dibanding mengagungkan kelebihannya, namun juga ‘merendahkan’
kekurangan yang mereka miliki.
Toh pada akhirnya kita sama-sama manusia, yang memiliki
kelebihan dan kekurangan, dan kita gak bisa milih keduanya. Maka bagaimana
seseorang menyikapinya, akan menjadi tolak ukur yang paling tepat untuk menilai
kepribadian orang tersebut.
Karena jika kita hanya menilai seseorang dari kelebihan dan
kekurangannya saja, bukan dari cara mereka menyikapinya; lalu kelebihan mereka
malah membuat kita inferior dan kekurangannya membuat kita merasa berhak
menghujat mereka, aku rasa ada yang salah di sana.

Komentar
Posting Komentar