Kalau kalian belum tahu, Ustad Nouman ini adalah salah satu ‘guru
online’ favoritku. Materinya yang terstruktur, penggunaan logika yang
sederhana, dan bahasa penyampaiannya yang mudah dimengerti, selalu jadi alasan
kenapa aku suka beliau.
Tapi karena alasan itu pula, materi beliau jadi yang paling jarang
aku share ulang di story, saking bingungnya harus nyederhanain laginya gimana. Begitu
juga dari acara kemarin, bukan karena gak ada pelajaran yang bisa aku bagi,
tapi justru karena semua materinya penting dan saling terhubung; jadi bingung
harus nyampein ulangnya gimana.
Meski gak akan bisa share ulang materi utamanya, tapi aku
rasa ada satu poin dasar yang bisa aku ceritain di sini, yaitu tentang sejarah
yang hidup.
Bayangkan ada berapa banyak kisah yang terjadi dari masa
Nabi Adam sampai Nabi Muhammad. Tapi kalian pernah nanya gak sih, kenapa
kisah-kisah yang sekarang terabadikan di Quran yang Allah pilih untuk kita tahu?
Kalau kata Ustad Nouman, karena sejak awal kisah-kisah
tersebut memang bukan kisah masa lalu yang sudah mati. Kisah-kisah tersebut
adalah kisah milik kita masing-masing. Perlu digaris bawahi: masing-masing.
Materi hari itu dibagi jadi 4 sesi, yang keseluruhannya nyeritain
kisah Nabi Musa. Alurnya 7-20-2-7, alias surat Al-Anfal-Taha-Al-Baqarah- Al-Anfal.
Dari situ kita gak cuma diceritain tentang Nabi Musa aja, tapi gimana latar
belakang agama Firaun, keadaan Bani Israi, sampai bedah karakter Nabi Musa,
Nabi Harun dan Samiri.
Selanjutnya kita diajak merenungi bagaimana seandainya kita berhadapan
dengan situasi yang sama dengan yang dihadapi oleh Bani Israil. Melihat keadaan
dan semua faktor pendukung, aku yang sebelumnya gak pernah kepikiran tentang
ini, jadi yakin kalau pilihan kebanyakan dari kita pasti adalah mengikuti Samiri;
sama seperti Bani Israil.
Di akhir aku jadi semakin paham, kalau pada akhirnya sejarah-sejarah
yang ada di Quran sebenarnya adalah kisi-kisi bagaimana kita seharusnya
menjalani hidup. Kita akan mendapatkan manusia-manusia zaman dulu yang kisah,
keadaan, latar belakang, atau bahkan karakternya mirip dengan kita.
Lalu dari mereka kita akan bisa belajar, apa sekiranya
keputusan terbaik yang bisa kita ambil? Jadi makna quran sebagai petunjuk bukan
saja melalui setiap perintah dan laranganNya, tapi juga dari apa-apa yang
dikisahkanNya.
Misal dengan mengenal Samiri lebih dalam, kita jadi tahu
orang dengan karakter seperti apa yang sebaiknya kita jauhi. Atau dengan memahami
bagaimana keadaan dan pola pikir Bani Israil yang dipengaruhi oleh latar
belakangnya, kita akan paham, jika sedang berada pada situasi yang sama maka
jangan memilih pilihan yang sama seperti yang mereka pilih.
Bayangkan, ini baru dari satu kisah Nabi Musa saja. Bagaimana
jika kita mendalami setiap kisah di dalam Al-quran; seberapa banyak ‘contekan bagaimana
cara menjalani hidup dengan benar’ yang bisa kita dapatkan?
Mungkin dengan mempelajarinya kita tidak akan langsung bisa jadi
sebijak pesan-pesan yang terkandung di dalamnya, tapi setidaknya sedikit demi
sedikit kita akan paham, sebenarnya sikap seperti apa yang harus selalu kita
usahakan, yang Allah mau kita sebagai hambaNya miliki?

Komentar
Posting Komentar