Wajar untuk Merasa “Hilang”

 https://pin.it/2PitPG2

Udah dari lama aku pengen bangettt dateng ke acaranya tim YukNgaji. Selain karena program-program mereka yang gak pernah ngecewain, aku selalu kagum dengan kedekatan para asatidznya. Dan kebetulan dalam waktu dekat ini mereka ngadain acara di daerah Jakarta, yang mana biasanya acara mereka kebanyakan di Bogor.

Sebenernya pas itu agak galau, karena temen yang aku ajak ke sana gabisa ikut pergi. Masa aku dateng sendiri banget gitu kan? Tapi ini kesempatan emas. Kapan lagi coba YukNgaji ngadain acara di Jakarta? Jadilah aku memutuskan untuk tetep dateng.

Dari banyaknya penyampaian para asatidz, ada satu hal yang berbekas banget buat aku pribadi. Yaitu ceritanya Ustad Felix, kalo akhir-akhir ini beliau lagi sering nanya ke dirinya sendiri, “Sebenernya aku udah berkontribusi apa?” “Aku berguna ga sih buat sekitar?”

Jleb.

Selevel Ustad Felix loh ini. Yang dakwahnya udah melalang buana. Belasan atau bahkan puluhan non-muslim jadi mualaf lewat perantara beliau. Belum lagi buku-buku beliau yang berhasil dakwahin banyak orang. Dan banyaknya pencapian-pencapaian lain yang masyaAllah luar biasa. Tapi beliau bilang kalau sekarang sedang mempertanyakan apakah dirinya sudah berkontribusi banyak? Wah, menarik.

Ternyata wajar ya untuk untuk merasa belum berbuat apa-apa. Wajar untuk merasa hilang; belum mengerti sebenarnya diri ini harus bagaimana? Wajar untuk merasa sepertinya kontribusi kita belum banyak memberikan pengaruh meski mereka yang terpengaruh sudah melihat kita sebagai sosok yang penuh kontribusi sekalipun.

Di akhir Ustad Felix sempat berpesan, bahwa ashabul kahfi* yang kisahnya ada di dalam Al-Quran diawali dengan rasa bingung. Mereka bingung harus bagaimana ditengah-tengah kedzaliman penguasanya pada saat itu. Sampai akhirnya mereka berserah diri untuk meminta pertolongan kepada Allah, dan diberikan petunjuk untuk ‘bersembunyi’ di dalam goa. 

Dari kisah ini kita bisa belajar. Bahwa wajar untuk merasa bingung. Wajar jika bertanya-tanya sebenarnya usaha seperti apa yang harusnya kita lakukan? Wajar untuk merasa hilang arah, tapi tidak wajar untuk diam tidak mencari mana arah yang benar. Wajar untuk merasa hilang, tapi jangan sampai rasa hilang tersebut justru menjadikan kita putus asa.

Mungkin untuk sekarang kita belum tahu ke arah mana kita sedang atau akan melangkah, sehingga kita merasa tidak berguna. Tapi belum tahu bukan berarti segala usaha kita sia-sia, justru diamlah yang membuat perjalanan kita menjadi sia-sia.

Ashabul kahfi perlu berserah sampai akhirnya Allah beri mereka petunjuk. Begitu juga seharusnya kita. Solusi dari kebingungan yang kita rasakan adalah berserah; memohon rahmatNya, memohon kasih sayang dariNya. Sebab setelah rahmat, ilmu yang akan turun; sebuah petunjuk, langkah seperti apa yang harus kita ambil selanjutnya.

Ilmu setelah rahmat. Ini yang aku dapat, dari kisah Ustad Felix kemarin.

*Ashabul Kahfi merupakan kisah sekelompok pemuda yang menghindari kezaliman penguasa demi mempertahankan aqidah mereka dan keleluasaan beribadah kepada Allah Swt. Kisah tersebut tercantum dalam Al-Qur'an surah Al-Kahfi, sesuai dengan nama kelompok pemuda tersebut.

Sekian dulu untuk hari ini. Kalau ada kebaikan yang kalian dapat, aku akan sangat senang jika kalian juga membagikannya ke sekitar kalian. Sampai jumpa di kesempatan berikutnya!

Komentar