Sekian sudah perjalananku!
Perjalanan yang membuatku sadar bahwa pernyataan “manisnya iman" itu nyata
adanya.
Setelah menyadari bahwa ternyata bukan hanya aku aja yang punya
pertanyaan-pertanyaan ini di kepala, aku memilih untuk membagikan kisahku.
Dengan harapan kalian yang punya pertanyaan sama, bisa mendapat jawabannya di
sini. Atau ya setidaknya kalian jadi tahu kalau kalian tidak sendiri.
Aku berharap episode ini bisa hadir sebagai jembatan. Agar kalian tahu bahwa
tak masalah untuk punya pertanyaan-pertanyaan tentang tuhan. Justru sebaiknya segera
ditanyakan dan dicari jawabannya, agar aqidah yang kita miliki bisa kokoh
berdasarkan landasan pemikiran, bukan sekedar ikut-ikutan.
Sebab jika aqidah saja belum selesai, ke depannya akan sulit untuk seseorang bisa menerima syariat secara gamblang dan berlapang dada.
Bayangkan saja, jawaban
dari setiap syariat yang Allah turunkan adalah “Karena sudah perintahNya”. Tapi
bagi mereka yang logikanya belum terpuaskan, pasti akan mudah menyanggah
syariat berdasarkan logikanya sendiri.
Misalnya aja gini, “Kenapa harus sholat, toh kan esensi dari sholat adalah
mengingatNya, maka dengan berdzikir saja sudah cukup dong?” “Gapapa gak pakai kerudung,
asal hatinya baik” Mungkin secara logika kalimat ini bisa diterima, tapi tidak begitu
seharusnya syariat dipandang. Tidak dengan logika manusia.
Bagi mereka yang belum selesai dengan aqidahnya, jawaban “Karena sudah perintahNya” tidak akan pernah cukup. Termasuk untuk aku, sebelum ‘menemukan tuhan’.
Setelah
menemukan tuhan kita akan paham bahwa syariat tidak seharusnya banyak
dipertanyakan. Sebab sejak awal kita sendiri yang sudah berkomitmen untuk taat
kepada yang memerintahkannya.
Bisa jadi cerita-ceritaku masih belum cukup menjawab pertanyaan kalian.
Tidak apa. Itu tandanya ada misi besar milik kalian sendiri untuk mencari
jawaban-jawaban tersebut. Dan aku harap, kalian juga akan mencari jawabannya
sampai ketemu.
Dengan selesainya episode ini, selesai juga sharing aku dalam persoalan
tuhan. Insyaallah bakal aku lanjutin dengan sharing persoalan syariat, jelas
bukan dari sudut pandang hukum fiqih tentu saja.
Karena selayaknya aku belum menerima keberadaan tuhan, begitu juga aku belum
menerima syariat. Dan sebagaimana aku mengakui keberadaan tuhan lewat logika,
begitu juga aku mulai menerima keberadaan syariat lewat logika —dan tentu dengan hati yang sudah lapang.
Sekian dulu untuk hari ini. Kalau ada kebaikan yang kalian dapat, aku akan sangat senang jika kalian juga membagikannya ke sekitar kalian. Sampai jumpa di kesempatan berikutnya!
Komentar
Posting Komentar