"Katanya tuhan Maha Kuasa, lalu kenapa kita harus ada? Kalau memang tanpa adanya kita sekalipun tuhan tetap berkuasa, jadi apa poinnya kita ada dong?" Sebuah pertanyaan yang selalu ada di kepala, dan baru aku dapatkan jawabannya dekat-dekat ini.
Sebenarnya dengan akal yang sudah tunduk, pertanyaan ini cukup dijawab dengan beribadah. Selesai. Tapi sayangnya pertanyaanku tak berhenti sampai di situ; kalau gitu apakah tuhan membutuhkan ibadah kita sampai-sampai menciptakan kita di dunia untuk beribadah kepadaNya? Apakah kekuasaannya berkurang dengan tidak adanya ibadah kita? Kalau memang jawabannya tidak, lalu apa poinnya kita beribadah? Dan seterusnya.
Ternyata konsepnya tidak begitu.
Mempertanyakan kenapa kita ada di dunia untuk beribadah, sama saja seperti bertanya kepada adik kita kenapa sekarang dia sedang memakan permen rasa coklat? Hanya adik kita yang bisa menjawab pertanyaan tersebut. Karena jika kita yang menjawabnya, berarti jawaban tersebut hanyalah sebuah tebakan.
Mungkin kita tahu bahwa adik kita suka rasa coklat, maka kita jawab karena itu rasa kesukaannya. Tapi coba tanyakan langsung padanya, pasti ada kemungkinan lain, seperti misal pada saat itu permen yang ingin ia beli sebenarnya rasa vanila, tapi sayangnya di warung hanya ada rasa coklat, atau alasan lainnya yang tidak kita tahu.
Kita memang bisa mengira-ngira jawabannya dengan akal kita, tapi sejauh apapun akal kita mengira-ngira, jawaban tersebut tetap hanya akan berstatus tebakan. Karena satu-satunya jawaban dari keinginan seseorang adalah dengan menanyakannya langsung kepada orang tersebut.
Sama konsepnya dengan keinginan tuhan, satu-satunya yang bisa menjawab kenapa tuhan ingin manusia hidup di dunia adalah tuhan itu sendiri. Lalu Allah mengatakan, bahwa tujuan kita diciptakan adalah untuk beribadah, dengan tambahan ayat yang mengatakan bahwa ibadah itu untuk diri kita sendiri, bukan untukNya.
Maka menerka-nerka jawaban lain di balik alasan kenapa kita harus beribadah adalah sebuah kesalahan fatal. Karena sekedar jawaban kenapa adik kita sekarang sedang makan permen coklat saja tidak bisa kita jawab, apalagi alasan di balik kenapa tuhan menciptakan kita untuk beribadah?
Hal tertinggi yang bisa kita lakukan sampai di titik ini adalah dengan sepenuhnya tunduk. Meyakini bahwa ada sesuatu yang Allah tahu, dan kita tidak perlu tahu. Konsep ini mengingatkan aku bahwa seringkali kita sok tahu dalam memandang keputusan tuhan,
“Ya gak usah taat-taat amat lah, kan yang penting hatinya baik. Lihat itu Bunda Teressa udah baik banget kayak gitu, masa orang kayak dia bakal masuk neraka? Ga mungkin lah, kan Allah Maha Baik”
Padahal Allah sudah berkata, bahwa surgaNya hanya untuk orang-orang beriman. Maka sudah sepatutnya kita tidak menjadikan akal sebagai tolak ukur dalam memandang keputusanNya. Sebab kita hanyalah ciptaan, yang akalnya begitu terbatas.
Sekian dulu untuk hari ini. Kalau ada kebaikan yang kalian dapat, aku akan sangat senang jika kalian juga membagikannya ke sekitar kalian. Sampai jumpa di kesempatan berikutnya!
Komentar
Posting Komentar