Perjalanan Mencari Tuhan 05: Apakah Kita Cuma Boneka?

“Manusia hanyalah boneka tuhan” adalah sudut pandangku tentang hubungan antara hamba dengan tuhannya sampai di umur 17 tahun. Makanya aku marah ke tuhan, gak suka dengan keberadaanku di dunia. Selalu bertanya, kenapa aku harus lahir? Kenapa aku harus ada? 

Tapi takdir tetaplah takdir, yang sudah terjadi maka terjadilah.

Untuk sekarang aku sudah menerima keberadaanku di dunia, alhamdulillah. Itupun setelah melewati proses yang tidak singkat. Maka hari ini, aku ingin menceritakan proses tersebut kepada kalian!

Aku belajar kalau ternyata dalam islam diterangkan bahwa manusia memiliki 3 naluri dasar dalam dirinya, yang disebut gharizah:

  • Gharizah Nau adalah naluri melestarikan jenisnya, 
  • Gharizah Baqa’ adalah naluri mempertahankan diri, dan
  • Gharizah Tadayyun adalah naluri menyembah sesuatu.

Jadi setiap manusia pastilah memiliki 3 naluri dasar ini. Sudah hukum alam, alias fitrahnya memang begitu.

Yang jadi poin utama pembahasan kali ini adalah gharizah tadayyun, di mana manusia pasti butuh untuk menyembah sesuatu. Kalaupun bukan tuhan, hal tersebut bisa berupa tokoh, dewa, uang, gengsi, jabatan, kekuasaan ataupun hawa nafsu. 

Bisa apapun. Jadi mau bagaimanapun juga, sudah hukum alam bahwa manusia akan secara alami tunduk terhadap sesuatu. 

Mulai dari sini aku jadi paham, kalaupun aku tak mau menerima bahwa kita adalah ‘boneka’nya tuhan, kita akan tetap menjadi ‘boneka’nya sesuatu. Mungkin uang bagiku? Atau hawa nafsu? Bisa apa saja. Maka sebenarnya suatu kehormatan, jika sejak awal kita dapat memilih kepada apa/siapa kita akan tunduk.

Memilih kepada apa/siapa kita akan tunduk bisa digambarkan seperti sedang mencari perusahaan yang tepat untuk bekerja. Kita tidak akan bekerja untuk sembarang perusahaan, bukan? Pasti kita akan berusaha sebisa mungkin mencari perusahaan yang paling cocok tugas dan bayarannya.

Misal ada 2 perusahaan: yang satu menawarkan kita job desk dengan imbalan yang setimpal atau bahkan lebih, dan satunya lagi menawarkan kita job desk dengan imbalan yang masih serba gak pasti. Kira-kira perusahaan mana yang akan kita pilih?

Aku rasa sudah pasti yang pertama.

Sekarang bicara soal islam. Di islam sendiri Allah sudah terangkan tugas serta imbalan untuk setiap hambaNya secara jelas. Sedangkan penghambaan kepada yang lain? Aku rasa tidak ada yang bisa menandinginya. 

Uang misalnya,

Kita semua tahu untuk mendapatkan uang kita juga butuh berjuang. Tapi belum pernah ada kepastian bahwa uang yang kita dapatkan akan sama besar dengan apa yang kita perjuangkan; semua serba gak jelas dan gak pasti. 

Begitu juga penghambaan kepada yang lain. Semua penghambaan pasti menuntut usaha dan pengorbanan di sana, tapi usaha serta pengorbanan mana yang sekiranya akan paling menguntungkan?

Kira-kira begitu jika tugas manusia dipandang menggunakan logika. Sebuah kemustahilan jika manusia tidak menghamba kepada sesuatu, tinggal pilihan kita kepada apa/siapa kita mau menghamba.

Tapi dalam islam konsep penghambaan tersebut tidak juga menjadikan kita sebagai boneka. Dalam al-quran kita disebut dengan ‘abdi' atau budak. Awalnya aku marah, kenapa pula kita begitu rendah sampai-sampai disebut sebagai budak?

Tapi ternyata jawabannya sesederhana karena kita adalah ciptaan, yang mana 'seorang' pencipta selalu punya kebebasan untuk menamai ciptaannya. Lagi pula kita bukan budak yang terkekang; kita juga diberikan kebebasan untuk memilih. 

Selain itu kita juga perlu memahami bahwa keberhasilan sebuah ciptaan ditentukan oleh kesesuaian fungsinya dengan yang penciptanya inginkan. Misal hp yang dapat digunakan untuk menelfon berarti adalah hp yang berhasil, begitu juga sebaliknya.

Takaran seorang budak itu sukses adalah ketika ia taat dengan majikannya. Maka sebenarnya dengan menjadi hamba yang paling taat kepada tuhannya, tidak menjadikan kita rendah, tapi justru tinggi. Sebab memang itulah tujuan kita diciptakan.

Ciptaan yang dapat ‘berfungsi’ sesuai dengan keinginan penciptanya adalah ciptaan yang akan paling dibanggakan oleh penciptanya. Dari sinilah aku mulai merasa, bahwa kedudukan kita sebagai hamba atau budak tuhan adalah sebuah kehormatan. Bukan hinaan.  

Sekian dulu untuk hari ini. Kalau ada kebaikan yang kalian dapat, aku akan sangat senang jika kalian juga membagikannya ke sekitar kalian. Sampai jumpa di kesempatan berikutnya!

Komentar