Mengejar Senang: Mau Sampai Mana?

                                            


Dulu aku sempat mempertanyakan, kenapa kita sebagai muslim banyak dibatasi untuk ‘bersenang-senang’ ya? Kita dilarang untuk berpesta, minum alkohol, pacaran, pakai baju sesuka hati, bikin tatto, dan masih banyak larangan lainnya. Apakah kita dibatasi untuk merasa senang?

Ternyata jawabannya, kita tak pernah membutuhkan ‘senang’, yang benar-benar diri kita butuhkan adalah bahagia. Tapi sayangnya, kebanyakan dari kita tidak mengerti apa perbedaan dari keduanya, termasuk aku pada saat itu.

Aku kira dengan membeli barang kesukaan, pergi ke tempat yang diinginkan, memiliki banyak uang, akan menjadi sumber kebahagiaan. Ternyata tidak juga. Iya mungkin kita akan merasa senang, sesaat. Lalu rasa senang tersebut akan menimbulkan efek samping.

Bayangkan berapa kali kita pernah jalan-jalan sambil merasa kosong? Belanja banyak tapi belum juga merasa cukup? Ngumpul bareng temen sambil merasa kesepian? Atau punya pacar tapi merasa kurang perhatian? Aku rasa tidak jarang semua itu terjadi. Karena ini semua adalah gambaran dari senang, yang sifatnya sesaat. Senang yang seringkali kita dapatkan pada momen tertentu, tapi tidak bisa terulang saat momen yang sama berusaha kita bangun kembali.

Dan ternyata, dengan menerjemahkan senang sama dengan bahagia, akan membuat kita menjadikan hal-hal kesenangan sesaat kayak tadi menjadi sebuah tujuan. Gimana maksudnya?

Kalau kita merasa bahwa dengan punya pacar kita akan senang dan bahagia misalnya, maka kita akan menjadikan pencarian pacar tersebut menjadi tujuan. Atau dengan merasa bahwa punya uang akan menjadikan kita senang dan bahagia, maka fokus kita akan terarah pada bagaimana caranya mengumpulkan uang sebanyak mungkin; karena yang kita pahami adalah semakin banyak uang, akan semakin banyak pula bahagia yang akan kita dapatkan.

Tapi mau sampai mana? Bentuk senang dan bahagia seperti apa yang sebenarnya sedang dikejar? Karena toh pada kenyataannya, yang kita anggap sebagai sumber bahagia tersebut tetap tidak membuat kita lepas dari rasa kesepian, kosong, dan hampa.

Setelah belajar barulah aku paham, kalau ternyata bahagia itu letaknya di hati. Ada pada rasa tenang. Yang mana Allah katakan, ketenangan itu diturunkan, bukan dicari. Maka sebenarnya kalau kita cari sejauh apapun, kita tak akan pernah bisa sampai untuk menemukannya. Satu-satunya cara untuk mendapatkannya adalah dengan bertanya kepada yang menurunkannya secara langsung, bagaimana agar kita bisa mendapatkan ketenangan hati tersebut?

Dan ternyata jawabannya ada pada…. Taat dan bersyukur.

Karena bagaimana Allah mau menurunkan ketenangan hati jika kita mencarinya pada hal-hal yang Ia larang? Bagaimana Ia akan menurunkan ketenangan hati jika kita tidak menunjukan rasa syukur atas apa yang sudah Ia beri?

Dengan konsep ini, kita tak akan lagi berlelah-lelah mengejar senang. Karena ketenangan hati yang Ia turunkan, akan selalu bisa kita terjemahkan sebagai bahagia, bagaimana pun keadaan kita yang terlihat di luar.

Saat kita sedang mengalami musibah misalnya, selama Ia turunkan ketenangan pada hati kita, percayalah, kita akan tetap bisa menyebut diri kita sedang bahagia pada saat itu. Setidaknya begitu pengalamanku setelah merubah konsep bahagia, meskipun prosesnya tidak mudah; tak jarang masih sulit untuk bersyukur dan lebih memilih untuk marah saat mendapat musibah.

Tapi tak apa, namanya juga proses. Dan di sini, aku ingin mengajak kalian semua untuk berproses bersama! Sehingga kalian tak perlu lagi mencarinya jauh-jauh.

Sekian dulu untuk hari ini. Kalau ada kebaikan yang kalian dapat, aku akan sangat senang jika kalian membagikannya ke sekitar kalian. Sampai jumpa di kesempatan berikutnya!

Komentar